Monday, March 12, 2007

Muslim deduktif

Jika kita adalah seorang jomblo, maka Agama itu dapatlah kita andaikan seperti seorang kekasih yang selalu kita rindukan. Kita tidak memiliki suatu kesepakatan bersama untuk menetapkan siapakah kekasih itu dan bagaimana kriterianya. Kita hanya memiliki kesepakatan, bahwa kehadirannya itu dibutuhkan. Kita tahu, begitu banyak wanita di dunia ini yang dapat menjadi kekasih kita (seandainya anda sama seperti saya, seorang pria heterosex yang masih jomblo).

Agama juga sama seperti itu. Banyak bertebaran di muka bumi ini. Namun, kita tidak punya cukup waktu untuk meneliti semuanya, kita tidak memiliki cukup tenaga untuk mencoba semuanya, kita hanya dapat memilih yang terdekat dengan kita. Kita hanya dapat memilih yang telah lama memperhatikan kita. Kita hanya dapat memilih agama yang selama ini ada bersama kita.

Dan ia juga tidak dapat menunggu lama-lama. Kita harus segera mengungkapkan rindu kita padanya.

Tidak ada cara lain, kita tidak mendapat keistimewaan seorang nabi, kita tidak memiliki keistimewaan seorang rasul. Mereka, nabi dan rasul itu dapat menikmati indahnya kebenaran mutlak–seandainya kita memungkinkan bahwa kebenaran mutlak itu ada– secara langsung dari sumbernya, Tuhan. Sedangkan kita, tidak dapat meyakini agama kita seperti mereka.

Kita tidak memiliki satu alasanpun yang dapat meyakinkan kita, bahwa agama ini kita peluk dengan cara yang rasional atau empiris. Olehkarena itu, kita hanya dapat mempercayai lalu membuktikan benar-tidaknya kepercayaan itu titik demi titik dan tahap demi tahap hingga kita mati.

Dalam posisi seperti ini, kita adalah pemeluk agama yang deduktif. Jika kita sekarang beragama islam, maka kita adalah muslim deduktif. Muslim yang pertama-tama, tanpa alasan rasional ataupun empiris, mempercayai bahwa tiada tuhan selain allah dan Muhammad adalah utusan allah lalu mencoba dan terus mencoba membuktikan pada dunia bahwa kepercayaan kita itu adalah kepercayaan yang benar.

Mungkin akan timbul pertanyaan di kepala kita. Bagaimanakah mengukur kebenaran dari kepercayaan itu?

Maka jawabnya adalah dengan membuktikan bahwa ajaran-ajaran agama kita dapat mewujudkan kehidupan dunia yang seimbang. Membuktikan bahwa ajaran agama kita dapat mewujudkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam sekitarnya, manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan tuhan.

Agama yang benar adalah agama yang mengajarkan prinsip keseimbangan universal, agama yang memanusiakan manusia.

Akan ada lagi pertanyaan, “apakah islam adalah agama yang demikian sifatnya?”

Maka jawabnya adalah, ya. Karena islam menawarkan ajaran yang bersifat universal, bukan kesukuan atau kebangsaan. Islam untuk dunia. Islam dengan lantang menyuarakan, ijinkan aku mengatur dunia manusia.

Akan ada lagi pertanyaan, “bukankah agama lain yang bukan agama folk (agama yang tidak ditawarkan secara universal) juga mengaku demikian?”

Maka jawabnya, benar. Mereka mengaku, namun, saya tidak melihat mereka memiliki konsep ekonomi, social, politik, ilmu pengetahuan, atau ajaran kemanusiaan yang lebih jelas dari konsep-konsep yang demikian yang ada pada ajaran-ajaran agama islam. Hal ini dapat kita bahas secara rinci pada pembahasan yang akan datang.

Akan ada pertanyaan lagi, “mungkin anda saja yang belum menggali ajaran-ajaran mereka, yang sebenarnya juga memuat konsep-konsep ekonomi, social, dan politik serta bidang-bidang lainnya itu”.

Maka, jawabnya, benar. Tentu saja saya belum mempelajari semua ajaran agama-agama itu. Tapi, kita tahu, bahwa ajaran-ajaran itu bergantung pada sumber ajarannya. Dapatlah kita mengatakan bahwa suatu agama itu benar-benar mengajarkan ajaran-ajaran jika sumber agama itu benar-benar memuat ajaran-ajaran itu.

Namun, jika sumber ajaran agama itu berubah-ubah bersama waktu, baik dikarenakan tidak sengaja atau keisengan pembesar-pembesarnya, maka pastilah ajaran yang terkini dari agama itu akan kita ragukan, apakah benar-benar ajaran yang berasal dari agama itu atau bukan.

Kita tahu, bahwa kitab-kitab suci mereka, agama-agama besar selain islam itu, yang mana menjadi sumber ajaran yang demikian itu, tidak lebih konsisten dari keberadaan kitab agama islam, alqur’an. Alqur’an terbukti lebih otentik daripada kitab yang lainnya.

Kita ketahui, bahwa kitab agama hindu adalah kumpulan gubahan-gubahan sepanjang usianya. Begitu juga kitab agama budha. Kitab agama Kristen juga mengalami revisi terus menerus.

Kitab alquran, mungkin saja dapat dianggap telah berubah, namun, sejauhmanakah perubahan itu dibandingkan kitab agama besar lainnya?adakah anda melihat alquran edisi revisi?adakah anda melihat alquran ditambah dengan syair-syair filosofis seperti kitab pada agama hindu?apakah anda melihat surat-surat nabi kepada raja-raja dahulu menjadi bagian dari alquran sebagaimana surat-surat rahib masa awal menjadi bagian dari kitab perjanjian baru? Alquran hanya mengalami perubahan system kodifikasi, system penulisan, system pembacaan, yang sebelumnya masih bersifat informal menjadi lebih formal.

Oleh karena itu, kitab alquran lebih otentik, sehingga ajarannya juga tentunya lebih otentik daripada ajaran agama lainnya. Nah, buat apa saya menggali ajaran-ajaran agama lain jika sumber-sumber ajaran agama-agama itu saya ketahui tidak lebih otentik daripada kitab alquran?

Akan ada lagi pertanyaan, pertanyaan yang menggoda, “jika islam adalah agama yang benar ajarannya, maka Islam yang manakah itu? Mengingat islam itu juga terpecah belah menjadi berbagai macam bentuk aliran atau kelompok dengan ajaran khas masing-masing”

Maka jawabnya, benar. Islam telah terpecah-belah. Tapi, islam bukanlah agama yang terseret zaman sedangkan ajarannya tersingkirkan dari peradaban manusia. Islam bukanlah agama yang memusuhi dan dimusuhi ilmu pengetahuan. Islam bukanlah agama yang tidak jelas asal mulanya.

Sebaliknya, islam mengukir namanya di buku-buku, di gedung-gedung, dan di ingatan jutaan manusia. Islam bukanlah agama tanpa tulisan atau tanpa kesaksian, oleh karena itu islam adalah agama yang memiliki sejarah, sehingga sejarah perpecahan itu juga dapat kita teliti.

Kita dapat meneliti, mana ajaran yang sempalan dan mana ajaran yang sesungguhnya. Kita tahu bahwa Sejarah, bagaimanapun relatifnya, adalah senjata kita yang handal untuk menghakimi seorang pencuri, atau.. penyempal.

Akan ada pertanyaan lagi. “lalu, dapatkah anda menentukan islam yang manakah itu?”

Maka jawabnya, dapat. Pada tulisan yang berikutnya, saya akan mencoba untuk menjelaskan dengan segala kelemahan saya, manakah ajaran islam yang sesungguhnya dan di dalam aliran islam yang manakah ajaran itu bersemayam. Apakah di aliran syi’ah atau sunni. Apakah di kedua-duanya. Atau, di aliran yang lain?

Tapi, perkenalkan dahulu.. sekarang dan seterusnya di dalam blog ini, saya adalah seorang muslim deduktif….

Posted by joozu at 08:35:24 | Permalink | Comments (2)