Saturday, November 10, 2007

Mutiara Peradaban Islam: Abdus salam (I)

Bukan main!! Ummat muslim memiliki seorang fisikawan yang tangguh. Abdussalam namanya, Keberadaannya di dunia fisika sangat diperhitungkan. Bersama Sheldon glashow dan steven Weinberg ia mendapatkan hadiah nobel fisika (1979) karena menemukan teori fisika yang dapat menjelaskan substansi dari materi alam ini dengan lebih memuaskan.

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai hasil gemilang “sang mutiara di tengah peradaban materialisme” ini, perlulah kita mengetahui sejarah pengkajian substansi alam materi ini, dari masa ke masa.

Sejarah pengkajian terhadap substansi alam materi dapat kita bagi menjadi enam masa dalam enam peradaban: peradaban mesir kuno (4000 SM), peradaban yunani (600-400 SM), peradaban kristen romawi (100 SM-700 M), peradaban islam (600-1200 M), peradaban kristen barat (abad 13-19 M) dan peradaban materialisme barat (abad 19 M-sekarang).

Seperti yang kita ketahui, awal dari pencarian substansi dari alam materi di dunia ini di awali oleh para pemikir peradaban mesir kuno (4000 SM) — sejauh yang tertulis di dalam sejarah. Para pemikir mesir waktu itu menghasilkan berbagai teori sepuar substansi alam ini. Pada prasasti yang ditemukan dari sisa-sisa peradaban ini, terukir teori air (air sebagai substansi alam materi), empat unsur (alam materi terdiri dari api, tanah, udara dan air), dan empat sifat (teori yang mengatakan bahwa basah,panas, kering dan dingin yang menjadi substansi dari alam materi ini). Teori-teori ini tidak mengalami perkembangan berarti selama peradaban mesir tersebut. Mungkin karena kecendrungan pragmatis bangsa mesir pada waktu itu dan sistem religius mereka yang menggunakan sistem kasta dalam kehidupan penelitian.

Ternyata, setelah ribuan abad kemudian ketika peradaban mesir mundur dan diganti oleh peradaban yunani (600-400 SM), peradaban yunani hanya melahirkan para pemikir yang cuma bisa meng-copy-paste sisa-sisa peradaban mesir tersebut, namun dengan sentuhan logika formal dan sistematis yang berkembang pada waktu itu. Thales (624 SM) mengcopy teori air, anaksamandros (611 SM) meng-copy teori empat sifat (585 SM), empedocles (500 SM) dan aristoteles (387 SM) mengcopy teori empat unsur. Sebenarnya, terdapat teori yang cukup murni, yaitu teori atomos yang digulirkan oleh demokritos, tetapi teori ini ditenggelamkan oleh teori-teori copy-an di atas tadi. Tradisi peradaban yunani tidak melahirkan suatu perkembangan yang berarti atas pencarian substansi alam ini.

Kejumudan ini mungkin dikarenakan tradisi analisa peradaban yunani yang terlalu mengedepankan proses filosofis dimana argumen rasional menjadi raja dalam segenap proses analisa. Dan parahnya, ketika yunani dipimpin oleh alexander agung dan mereka menduduki mesir, pengkajian terhadap substansi alam materi ini hanya dikhususkan bagi para pendeta alexandria pada waktu itu, padahal upaya pengkajian rasional saja tidak memadai untuk dapat mengetahui substansi alam yang nota bene-nya bersifat materiil ini, apalagi jika dikhususkan pada orang-orang tertentu saja. Alhasil, tidak ada kemajuan yang berarti atas upaya ini hingga 300 tahun lamanya!

Kemudian peradaban kristen romawi menduduki mesir, menggantikan peradaban yunani di mesir. Alih-alih membahas substansi alam, para intelektual kristen (yang terbatas pada kalangan gereja) disibukkan dengan pedebatan filosofis mengenai ketuhanan yesus. Tradisi rasionalitas dan sistem kasta menjadi tradisi kembali, dan lebih parah lagi, tuhan yesus lebih menarik daripada substansi alam materi ini! Pengkajian terhadap substansi alam serta merta anjlok! Membeku selama 800 tahun!! Hingga akhirnya islam hadir di mesir.

Ketika mesir diduduki oleh ummat islam, tradisi ini kemudian tergeser dengan cepat oleh tradisi analisa peradaban islam (700-1200 M) yang mengedepankan tidak hanya rasionalitas belaka (rasionalisme), tapi juga eksperimen praktis (empirisme) yang bersifat terbuka bagi siapa saja. Dalam tradisi ini, rasionalitas diimbangi dengan hasil eksperimen dan semua orang boleh melakukannya. Hal ini wajar, sebab secara teologis, islam memerintahkan kepada seluruh ummatnya (bukan sebagian) untuk mengedepankan fakta rasional (‘aqliyyah) dan empiris/tanda-tanda yang nyata (aayat al-bayyinat) sekaligus untuk dapat “mempercayai” suatu hipotesa (lih. Al-qur’an, 37:138 dan 20:128). Dan, pada zaman keemasan islam ini, entah bagaimana dan dari mana asal-muasalnya, para ilmuwan islam tergila-gila pada sebuah hipotesa bahwa: manusia dapat membuat suatu “Batu agung” atau yang pada waktu itu terkenal dengan sebutan al-iksir (elixir).

“Batu agung” ini adalah batu yang — menurut hipotesa para intelektual waktu itu – merupakan substansi sebenarnya dari benda-benda alam yang dapat merubah logam apapun menjadi emas!.

Mereka melakukan berbagai macam percobaan kimia untuk membuat “batu agung” itu, sehingga pada era ini, pengkajian terhadap benda-benda alam (terutama logam) berkembang dengan sangat pesat dan sampai-sampai Intelektual islam ini melahirkan suatu fenomena sosial baru yang disebut-sebut sebagai para alkemist. Ilmuwan islam yang kesohor dari golongan alkemist ini adalah jabir ibnu hayyan yang berhasil membentuk arsen dan timbal dari prcobaan kimianya (776M). Hasil sampingan dari pengkajian besar-besaran ini adalah berkembangnya ilmu hitung aljabar oleh penemuan besar al-khawarizmi (780?M), ilmu optik atau hubungan cahaya dan lensa oleh al-hasan ibn al-haytham (965M), ibnu yunus (awal 1000M), ilmu kedokteran oleh ibnu sina (abad 12) dan ilmu-ilmu lain yang bersifat sekunder dalam pengkajian ini.

Sekali lagi, di masa ini sebagaimana pada masa peradaban mesir dan yunani, pergulatan pemikiran mengenai substansi alam terus terjadi, namun peradaban islam memberikan warna baru padanya: tradisi eksperimen.

Sedemikian mendalam, tekun dan berkepanjangannya intelektual islam berjalan dalam semak-semak “substansi alam” ini sehingga ketika peradaban kristen barat tiba, “jalan baru” telah terbuka dengan lebar oleh “bekas-bekas tapak kaki” intelektual islam ini.

Para pemikir peradaban kristen barat seharusnya, sekali lagi seharusnya, melakukan pengkajian terhadap substansi alam ini dengan mudah dan sesegera mungkin, karena matematika telah terlukis cantik oleh khawarizmi dan tradisi eksperimen telah dipahat oleh para alkemist (tidak benar, jika dikatakan Bacon, seorang ilmuwan peradaban materialisme barat, sebagai bapak tradisi empirisme).

Tapi, ternyata, kristen benar-benar tidak belajar pada pengalaman mereka di zaman romawi, sehingga upaya pengkajian dipaksa berjalan terseret-seret – kalau tidak dikatakan berjalan di tempat — oleh intimidasi dan inkuisisi gereja. Para intelektual peradaban ini berakhir di tiang gantungan dan pisau guilottine bergiliran sejak inkuisisi papal tahun (1231) sampai dengan inkuisisi spanyol (1834). 600 tahun! kenyataan yang mengerikan, yang perlahan-lahan menjelma menjadi “ibu” yang “melahirkan” dan membesarkan peradaban materialisme barat sejak abad dimulainya inkuisisi itu hingga tumbuh semakin dewasa, di abad 21 ini.

Terepas dari krikit para teolog dan kuhnian atas penyalahgunaan sains oleh peradaban materialisme ini, baik eksplorasi yang serakah terhadap alam ataupun peperangan yang menjamur, baik ateisme atau kapitalisme, pengkajian terhadap substansi tetap saja berjalan, sebab curiosity adalah takdir bagi manusia yang berpikir. Oleh karena itu, berbagai penemuan yang berhubungan dengan pengkajian substansi alam materi ini terus-menerus dihasilkan oleh manusia-manusia berpikir di abad ini.

Dapat kita saksikan, Boyle (1627) mengkoreksi teori “tiga asas” dan menggantinya menjadi teori “unsur”, setelah itu, sekitar 100 tahun kemudian ditemukan konsep atom oleh dalton (1766), listrik oleh F. Du fay (1734), ditemukan hubungan antara reaksi kimia dengan gejala listrik oleh galvani (1737) dan volta (1745), listrik dan magnet Hans christian oerstedt (1777), kemudian ditemukan hubungan antara cahaya dengan gejala magnet oleh james clerk maxwell (1700), setelah 100 tahun kemudian ditemukan elektron oleh Thomson (1856), ditemukan hubungan antara elektron dengan cahaya yang melahirkan teori kuantum oleh max planck (1858) dan partikel cahaya (foton) oleh einstein (1879), kemudian ditemukan proton oleh Rutherford, dan Neutron oleh Cahdwick (1891). Kemudian, semakin mendalam dan teliti, pada abad materialisme ini juga, para penerus tradisi alkemist ini, menemukan partikel-partikel hadron, muon, lepton dan lain-lain. Ternyata, pengkajian terhadap substansi alam materi ini, tanpa di sadari, membawa manusia memasuki alam yang sama sekali baru bagi mereka, alam yang asing…alam partikel.

Abdussalam adalah ilmuwan islam yang berkontribusi dalam alam yang “asing” ini..

To be continued….

Sumber:
1. Majalah Islamia vol.III no. 1, penerbit Insists,
2. W.J wopakrik, 2002, Dari atom hingga quark, penerbit KPG, jakarta.
3. http://thegadget.wordpress.com

4.www.pikiran-rakyat.com
5. franz magnis-suseno, 1997, 13 tokoh etika, Penerbit Kanisius, yogyakarta.

Posted by joozu in 01:05:32
Comments

2 Responses

  1. Nananging Jagad says:

    Siiiip informasine……btw, Abdusalam itu orang India or Pakistan to?

  2. Anonymous says:

    TIPS MENCARI TUHAN YANG BENAR-2 TUHAN
    &
    MEMILIH AGAMA YANG DIRIDHOINYA (DIBENARKAN OLEHNYA)

    1. Sadari mengapa kita perlu mencari Tuhan ?, Hal ini supaya kita bisa memahami untuk apa kita ada (hidup) di Dunia ini yang ujung-2-nya sakit, tua, atau akhirnya mati juga, harta kita ditinggalkan untuk yang masih hidup, kok enak yah !, ilmu (S1, S2, bahkan sampai S3) ikut sirna, tidak bisa copy file di harddisk ataupun ke seseorang)..
    2. Bagaimana cara yang benar untuk mencarinya ? (bias melalui buku-2, diskusi, logical, bukti-3 sejarah) serta berdo`a agar diberikan kemudahan dan petunjuknya.
    3. Ada “filosofi” atau hukum alam yang kita harus terima, dan bisa digunakan untuk mencarinya, antara lain;
    a. Sesuatu mesti ada yang menciptakannya ? (yakini dulu !), seperti mobil, rumah, baju, dll..
    b. Pencipta mestinya harus ada dulu dari pada yang diciptakan ? (Tuhan lebih dulu ada sebelum adanya Manusia, bumi, jagad raya), tidak setelah ada manusia (+ nabi-2) tiba-2 turun ke bumi dan menampakan atau menjelma menjadi Manusia ?
    c. Pencipta mestinya tidak sama dengan yang diciptakannya (Manusia membuat mobil, tentunya mobil tidak sama dengan Manusia, baik bentuk dan kelakuannya), terima dulu logical ini !.
    d. Jadi Tuhan tidak akan menyerupai yang diciptakannya (sama dengan manusia) ?
    e. Manusia dan semua ciptaannya akan tunduk atau mengikuti HUKUM ALAM, yaitu menempati (ber dimensi) ruang, akan rusak karena waktu (umur) atau mati, dapat dilihat, diraba, atau dirasakan, dan difoto kemudian di up load di WWW).
    f. Jadi Tuhan tidak akan mungkin berwujud sama dengan ciptaannya (Manusia). Atau mempunyai sifat-2 yang akan tunduk terhadap HUKUM ALAM tadi.
    g. Tuhan tidak bisa dikategorikan jenis kelaminnya (Gender laki-2 atau perempuan ?), Tuhan Bapak, atau Bapa di Surga ?, Walaupun sebatas sebutan saja, atau dibayangkan seperti Bapak baiknya (kelakuannya).
    h. Tuhan
    i. Tuhan juga tidak menyerupai Manusia yang mempunyai tangan atau kaki, jadi tidak akan “CAMPUR TANGAN” sebagaima Manusia ? dalam kehidupan kita.
    j. Tuhan itu maha kuasa sekali, sehingga tidak perlu membutuhkan bantuan seperti menjadi “PELAYAN TUHAN”. karena tidak berdimensi waktu atau ruang, maka Tuhan tidak tinggal di syurga ? atau dimana tempatnya ?, terus siapa yang akan menunggu (tinggal) Neraka mengawasi orang-2 yang disiksa ? dan di Bumi ? (walo hanya sebutan saja Bapaku di kerajaan Syurga).
    k. Tuhan itu tidak akan seperti perasaan dan pikiran kita, sehingga Roh Kudus (Tuhan) tidak akan memimpin kemana arah pikiran, hati, perasaan atau tindakan kita, yang ada adalah bagaimana pikiran, hati, dan tindakan kita semata-mata hanya untuk Tuhan (sesuai petunjuknya).
    l. Secara nalar (logical) setiap siapa yang berbuat seharusnya Dia yang bertanggungjawab, mau Dosa atau Pahala, dan tidak mungkin dialihkan kepada Tuhan yg se-akan-2 si PENEBUS DOSA, atau dihapus dengan dengan pengakuan Dosa melalui Pastor, atau diwariskan kepada anak cucu, jadi Pernyataan “PENEBUS DOSA” apa itu bukan sbg proganda (iklan terselubung) agar menarik Orang mengikuti ajaran.
    m. Jangan mengandalkan kemampuan logical (otak), panca indra (mata dll), maupun perasaan kita dalam mencari Tuhan, karena Organ kita mempunyai keterbatasan, sepertinya halnya MATA, mata memandang langit itu berwarna biru padahal langit itu tidak berwarna dan merupakan ruangan yang bolong tidak berbatas dengan benda atau layar, atau seperti hal perasaan bahwa kita, bahwa kita ini tinggal pada permukaan bumi yang datar dan tidak mungkin kita berada di atas kulit bumi yang bundar, padahal kalau kita terbang antar benua baru melihat bahwa kulit bumi itu melengkung, sepertinya sepandai-pandai manusia, manusia tidak pernah mampu melihat bentuk (wujud) ROHnya sendiri seperti apa dan dimana keberadaannya di tubuh kita ?,
    n. Jadi jangan sampai kita memaksakan TUHAN, bahwa Tuhan itu harus nampak wujudnya seperti halnya Manusia atau menyamakan bahwa Tuhan itu juga seperti Manusia, walupun sebagai Anak Tuhan atau Tuhan anak, ada ibunya, Tuhan itu seolah-olah seperti BAPA di kerajaan syurga, walaupun itu mungkin sekedar imajinasi saja untuk memudahkan kita membayangkan atau mempercayainya.
    4. Terus bagaimana Tuhan yang sesungguhnya itu ?
    5. Tentunya Tuhan itu tidak akan menampakan dirinya dan memperlihat pisiknya kepada Manusia (bikin penasaran saja Tuhan ini), logical kita Dunia bisa heboh ? kalo Tuhan sampai menampakan DIRInya.
    6. Seperti Hanyal Roh, setiap Orang pasti (100 prosen) percaya bahwa setiap Orang yang hidup pasti ada Roh di dalam tubuhnya, dan kita tidak pernah tahu bagaimana wujud dan letaknya, walaupun seorang dokter ahlipun.
    7. Tetapi Tuhan telah memberikan Tanda-2 keberadaannya kalo kita mau peduli terhadap Tanda-2 kebesarannya (ke Maha’an nya) dan asal kita mau mencari melalui cara yang dibenar atau diridhoinya..
    8. Bagaimana cara mencari Tuhan yang benar ?
    9. Silahkan baca Al Qur`an dan dalami Maknanya, disitu jelas-2 sekali bahwa Tuhan ALLAH itu adalah Tuhan Kita semuanya (Bule, Cina, Negro, Arab, Melanesia, Monggol) dan Al Qur`an diturunkan untuk semua Manusia di Dunia (bukan hanya untuk orang Moeslem atau Islam saja atau orang Arab saja), di Al Qur`an ada cara-2 mencari Tuhan yang diisyaratkan.
    10. Bandingkan dengan kitab-2 Agama lainnya, betul-2 isinya ber beda sekali dan proses turunnya ayat juga juga jauh berbeda, mohon jangan antipati (or negative thinking before) dulu, sebelum membaca dan mendalami maknanya (anggap sbg ilmu pengetahuan aja dulu).
    11. Inilah pengalaman spiritual saya, mudah-2-an Saudara-2-ku bisa memperoleh manfaat dan hikmahnya, amien yah ROBBAL ALLAHMIEN.

    Semoga Allah merachmati kita semua, amien.
    Wassalam

    Ridhawati
    Flexi; 022 7204941
    E-mail; ridha@telkom.co.id

Leave a Reply