Islamisasi pengetahuan?
Naquib al attas, pada konferensi islam di mekah pada tahun 1960-an menyuarakan sebuah wacana yang diharapkan dapat dikaji untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di dunia islam. Wacana itu sering kita dengar sebagai wacana islamisasi pengetahuan.
Hamid fahmi zarkasy dalam artikelnya yang membahasa konsep islamisasi pengetahuan alttas dan al faruqi, menyampaikan bahwa term “slamisasi pengetahuan” atau “islamization of knowledge” sebenarnya tidaklah sepenuhnya tepat karena term tersebut tidak mewakili ide yang telah diwacanakan oleh al attas di atas.
Al attas, dalam penyampaiannya mengenai konsep islamisasi pengetahuan ini memakai term “islamization of temporary current knowledges” yang berarti, “upaya islamisasi terhadap ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan yang baru-baru ini hadir di dunia manusia”. Ini menegaskan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat islami, seperti ilmu hadits, fikih, tafsir, dan ilmu-ilmu islam lainnya tidak perlu diislamisasikan. Term yang digunakan oleh al attas, sebagai pencetus ide ini, adalah lebih universal daripada term yang digunakan oleh Dr. Al-faruqy.
Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya, kita akan menggunakan term “Islamization of temporary current knowledges”. Haha, kita singkat saja agar lebih mudah, menjadi ITCuK.
Semua kita di ruangan ini mengharapkan konsep ITCuK dapat diaplikasikan segera mungkin. Kita ingin melihat ide-ide perubahan social yang syar’I, pencapaian teknologi yang didasarkan oleh imtaq dan bahkan ilmu musik atau lukis yang islami. Kita menginginkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan pondasi keislaman yang kokoh, di capai dengan cara yang syar’I dan diaplikasikan secara syar’I pula. Kita ingin hidup kita diatur oleh tuhan pencipta alam melalui ajarannya. Allah.
Tapi, semua kita yang berada di ruangan ini pun mengharapkan tidak ada kerancuan paham apa yang disebut islami dan apa yang tidak islami dalam penerapannya nanti. Kita tidak ingin adanya perbedaan mengenai mana yang ajaran, dan mana yang tidak. Mana yang syar’i dan mana yang tidak.
Missal, saya katakan, bahwa khilafah adalah system politik yang islami. Semua konsep pemerintahan yang ada, akan kita timbang berdasarkan konsep khilafah tersebut. Nasionalisme islam tentu bertentangan dengan konsep ini, maka kita akan ‘menjelek-jelekkan” nasionalisme. Mungkin saja, saudara-saudara yang berasal dari IMM, yang juga muslim, tidak akan menyetujui “penjelek-jelekan” terhadap nasionalisme islam tersebut. Maka perdebatan kusir pasti akan terjadi seputar mana yang syar’I seputar kedua hal tersebut.
Missal lagi, jika saya katakan, bahwa pemahaman aqidah yang syar’i, yang seharusnya diperjuangkan oleh ummat islam baik secara individu, masyarakat, ataupun oleh negara, adalah aqidah yang seperti saat ini diajarkan oleh kelompok yang menamakan dirinya salafi. Akan ada banyak respon dari akademisi yang menekuni perbedaan ini, dan akan ada lebih banyak respon dari akademisi yang membebek. Cuma biasanya yang kedua ini merespon dengan spanduk-spanduk cacian, teror, dan sejenis itu.
Jika saya –dengan nekad—mengatakan lagi, bahwa Konsep aqidah yang mereka (kelompok salafi) tawarkan lebih benar dalil-dalilnya, lebih terpercaya ulama yang mempopulerkan konsep-konsep itu, dan atau lebih memuaskan akal, maka saya akan terlibat debat kusir lagi dengan muslim NU yang nota-benenya sama-sama berlabel islam tapi memiliki paham aqidah yang berbeda dengan salafi. Atau, saya juga akan debat kusir dengan HTI, syi’ah, ikhwan muslimin, JIL, Muhammadiyah, dan kelompok (yang juga berlabel) islam lainnya yang mungkin juga berbeda paham. Padahal, kita tahu, bahwa perihal aqidah adalah perihal mendasar, pembeda antara kafir dan mu’min, antara musyrik dan muwahhid, akan kekal di surga atau neraka. Tapi, biasanya, kita tidak terlalu memikirkannya, kita lebih senang memikirkan bagaimana mengatasi perut masyarakat yang kosong, SDA negara yang dicuri, pemberantasan korupsi sistem ekonomi yang islami, bagaimana memerdekakan negara-negara yang memiliki label negeri islam dan berbagai macam masalah praktis lainnya.
Oleh karena itu, sebelum kita beranjak lebih jauh ke dalam konsep ITCuK ini, sebelum kita bertengkar mengenai mana yang islami dan mana yang tidak, dan sebelum kita menjadi jenuh sendiri dalam hal ini, ada baiknya kita membuat kesepakatan dahulu, bagaimana konsep ‘islam’ itu sendiri.
Saya akan menawarkan konsep islam yang saya pahami. Saya akan sampaikan, dan saya harapkan ada persetujuan atau penolakan yang membangun dari saudara-saudara semua.
Karena konsep hanya dapat diterangkan melalui deskripsi terhadap definisi, maka saya akan menyampaikan definisi terlebih dahulu.
Islam adalah suatu pedoman hidup manusia yang saat ini dipeluk oleh hampir 1/3 ummat manusia dengan pemahaman yang berbeda-beda terhadap ajaran-ajaran tekstualnya tapi mereka sepakat bahwa pada mulanya pedoman hidup ini diajarkan dalam bentuk pemahaman yang tunggal oleh seorang arab bernama Muhammad yang mengaku mendapatkannya dari tuhan pencipta alam semesta bernama Allah.
Sebelum anda mengkoreksi, ada baiknya saya perjelas definisi dengan memecahkannya menjadi beberapa bagian berikut ini:
- Islam adalah pedoman hidup yang saat ini dipeluk hamper 1/3 dari jumlah manusia di bumi.
- Islam adalah kumpulan ajaran-ajaran yang saat ini sama secara tekstual namun dipahami secara berbeda-beda.
- Islam adalah ajaran-ajaran yang memiliki pemahaman primer dan sekunder.
- Islam adalah pedoman hidup yang diajarkan oleh Muhammad.
- Islam adalah ajaran-ajaran yang berasal dari tuhan pencipta alam semesta.
Ini penting. Silahkan ditanggapi, demi tujuan kita semula dan kepentingan kita bersama…
Islam itu adalah agama yang datangnya dari Allah dan diturunkanya kepada rasul sekaligus nabi yaitu muhammad yang tujuannya untuk mensejahtrakan umat manusia. Dalam pikiran saya dan mungkin manusia yang lainnya kita sebagai manusia pasti selalu mendambakan kedamaian dunia tapi saya rasa itu tidak mungkin terjadi kalau terjadi mungkin hanya sebentar karena dalam pikiran manusia itu selalu berubah-ubah dan berbeda-beda daya nalarnya. Saya brpikir juga kenapa ada manusia yang suci dan banyak dosa bagaimana bisa dia sampai pada derajat kesucian itu apakah Allah memilihnya dan kenapa yang lain tidak dan banyak orang yang pasrah karna itu sehinnga mereka mengatakan biarlah ini takdir atau perjalanan hidup saya, apakah apkah Allah itu adil dimana letak keadilannya, bagaimana orang orang di desa yang lemah itu bisa berpikir dengan islam yang banyak pembasanyaitu apakh kita akn menyalahkan mereka mungkin tidak memang manusia diciptakan untuk merusak bumi ini dan melanggengkan jalan iblis yang pernah menjadi abdi Allah yang setia dan manusia tidak semua masuk syurga dan tidak semua masuk nraka manusia adlah mahluk pertenghan terndah dan tertinggi.