Friday, March 23, 2007

Islamisasi pengetahuan?

Naquib al attas, pada konferensi islam di mekah pada tahun 1960-an menyuarakan sebuah wacana yang diharapkan dapat dikaji untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di dunia islam. Wacana itu sering kita dengar sebagai wacana islamisasi pengetahuan.

Hamid fahmi zarkasy dalam artikelnya yang membahasa konsep islamisasi pengetahuan alttas dan al faruqi, menyampaikan bahwa term “slamisasi pengetahuan” atau “islamization of knowledge” sebenarnya tidaklah sepenuhnya tepat karena term tersebut tidak mewakili ide yang telah diwacanakan oleh al attas di atas.

Al attas, dalam penyampaiannya mengenai konsep islamisasi pengetahuan ini memakai term “islamization of temporary current knowledges” yang berarti, “upaya islamisasi terhadap ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan yang baru-baru ini hadir di dunia manusia”. Ini menegaskan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat islami, seperti ilmu hadits, fikih, tafsir, dan ilmu-ilmu islam lainnya tidak perlu diislamisasikan. Term yang digunakan oleh al attas, sebagai pencetus ide ini, adalah lebih universal daripada term yang digunakan oleh Dr. Al-faruqy.

Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya, kita akan menggunakan term “Islamization of temporary current knowledges”. Haha, kita singkat saja agar lebih mudah, menjadi ITCuK.

Semua kita di ruangan ini mengharapkan konsep ITCuK dapat diaplikasikan segera mungkin. Kita ingin melihat ide-ide perubahan social yang syar’I, pencapaian teknologi yang didasarkan oleh imtaq dan bahkan ilmu musik atau lukis yang islami. Kita menginginkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan pondasi keislaman yang kokoh, di capai dengan cara yang syar’I dan diaplikasikan secara syar’I pula. Kita ingin hidup kita diatur oleh tuhan pencipta alam melalui ajarannya. Allah.

Tapi, semua kita yang berada di ruangan ini pun mengharapkan tidak ada kerancuan paham apa yang disebut islami dan apa yang tidak islami dalam penerapannya nanti. Kita tidak ingin adanya perbedaan mengenai mana yang ajaran, dan mana yang tidak. Mana yang syar’i dan mana yang tidak.

Missal, saya katakan, bahwa khilafah adalah system politik yang islami. Semua konsep pemerintahan yang ada, akan kita timbang berdasarkan konsep khilafah tersebut. Nasionalisme islam tentu bertentangan dengan konsep ini, maka kita akan ‘menjelek-jelekkan” nasionalisme. Mungkin saja, saudara-saudara yang berasal dari IMM, yang juga muslim, tidak akan menyetujui “penjelek-jelekan” terhadap nasionalisme islam tersebut. Maka perdebatan kusir pasti akan terjadi seputar mana yang syar’I seputar kedua hal tersebut.

Missal lagi, jika saya katakan, bahwa pemahaman aqidah yang syar’i, yang seharusnya diperjuangkan oleh ummat islam baik secara individu, masyarakat, ataupun oleh negara, adalah aqidah yang seperti saat ini diajarkan oleh kelompok yang menamakan dirinya salafi. Akan ada banyak respon dari akademisi yang menekuni perbedaan ini, dan akan ada lebih banyak respon dari akademisi yang membebek. Cuma biasanya yang kedua ini merespon dengan spanduk-spanduk cacian, teror, dan sejenis itu.

Jika saya –dengan nekad—mengatakan lagi, bahwa Konsep aqidah yang mereka (kelompok salafi) tawarkan lebih benar dalil-dalilnya, lebih terpercaya ulama yang mempopulerkan konsep-konsep itu, dan atau  lebih memuaskan akal, maka saya akan terlibat debat kusir lagi dengan muslim NU yang nota-benenya sama-sama berlabel islam tapi memiliki paham aqidah yang berbeda dengan salafi. Atau, saya juga akan debat kusir dengan HTI, syi’ah, ikhwan muslimin, JIL, Muhammadiyah, dan kelompok (yang juga berlabel) islam lainnya yang mungkin juga berbeda paham. Padahal, kita tahu, bahwa perihal aqidah adalah perihal mendasar, pembeda antara kafir dan mu’min, antara musyrik dan muwahhid, akan kekal di surga atau neraka. Tapi, biasanya, kita tidak terlalu memikirkannya, kita lebih senang memikirkan bagaimana mengatasi perut masyarakat yang kosong, SDA negara yang dicuri, pemberantasan korupsi sistem ekonomi yang islami, bagaimana memerdekakan negara-negara yang memiliki label negeri islam dan berbagai macam masalah praktis lainnya. 

Oleh karena itu, sebelum kita beranjak lebih jauh ke dalam konsep ITCuK ini, sebelum kita bertengkar mengenai mana yang islami dan mana yang tidak, dan sebelum kita menjadi jenuh sendiri dalam hal ini, ada baiknya kita membuat kesepakatan dahulu, bagaimana konsep ‘islam’ itu sendiri.

Saya akan menawarkan konsep islam yang saya pahami. Saya akan sampaikan, dan saya harapkan ada persetujuan atau penolakan yang membangun dari saudara-saudara semua.

Karena konsep hanya dapat diterangkan melalui deskripsi terhadap definisi, maka saya akan menyampaikan definisi terlebih dahulu.

Islam adalah suatu pedoman hidup manusia yang saat ini dipeluk oleh hampir 1/3 ummat manusia dengan pemahaman yang berbeda-beda terhadap ajaran-ajaran tekstualnya tapi mereka sepakat bahwa pada mulanya pedoman hidup ini diajarkan dalam bentuk pemahaman yang tunggal oleh seorang arab bernama Muhammad yang mengaku mendapatkannya dari tuhan pencipta alam semesta bernama Allah.  

Sebelum anda mengkoreksi, ada baiknya saya perjelas definisi dengan memecahkannya menjadi beberapa bagian berikut ini:

  1. Islam adalah pedoman hidup yang saat ini dipeluk hamper 1/3 dari jumlah manusia di bumi.
  2. Islam adalah kumpulan ajaran-ajaran yang saat ini sama secara tekstual namun dipahami secara berbeda-beda.
  3. Islam adalah ajaran-ajaran yang memiliki pemahaman primer dan sekunder.
  4. Islam adalah pedoman hidup yang diajarkan oleh Muhammad.
  5. Islam adalah ajaran-ajaran yang berasal dari tuhan pencipta alam semesta.

Ini penting. Silahkan ditanggapi, demi tujuan kita semula dan kepentingan kita bersama…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by joozu at 14:05:14 | Permalink | Comments (1) »

Monday, March 12, 2007

Muslim deduktif

Jika kita adalah seorang jomblo, maka Agama itu dapatlah kita andaikan seperti seorang kekasih yang selalu kita rindukan. Kita tidak memiliki suatu kesepakatan bersama untuk menetapkan siapakah kekasih itu dan bagaimana kriterianya. Kita hanya memiliki kesepakatan, bahwa kehadirannya itu dibutuhkan. Kita tahu, begitu banyak wanita di dunia ini yang dapat menjadi kekasih kita (seandainya anda sama seperti saya, seorang pria heterosex yang masih jomblo).

Agama juga sama seperti itu. Banyak bertebaran di muka bumi ini. Namun, kita tidak punya cukup waktu untuk meneliti semuanya, kita tidak memiliki cukup tenaga untuk mencoba semuanya, kita hanya dapat memilih yang terdekat dengan kita. Kita hanya dapat memilih yang telah lama memperhatikan kita. Kita hanya dapat memilih agama yang selama ini ada bersama kita.

Dan ia juga tidak dapat menunggu lama-lama. Kita harus segera mengungkapkan rindu kita padanya.

Tidak ada cara lain, kita tidak mendapat keistimewaan seorang nabi, kita tidak memiliki keistimewaan seorang rasul. Mereka, nabi dan rasul itu dapat menikmati indahnya kebenaran mutlak–seandainya kita memungkinkan bahwa kebenaran mutlak itu ada– secara langsung dari sumbernya, Tuhan. Sedangkan kita, tidak dapat meyakini agama kita seperti mereka.

Kita tidak memiliki satu alasanpun yang dapat meyakinkan kita, bahwa agama ini kita peluk dengan cara yang rasional atau empiris. Olehkarena itu, kita hanya dapat mempercayai lalu membuktikan benar-tidaknya kepercayaan itu titik demi titik dan tahap demi tahap hingga kita mati.

Dalam posisi seperti ini, kita adalah pemeluk agama yang deduktif. Jika kita sekarang beragama islam, maka kita adalah muslim deduktif. Muslim yang pertama-tama, tanpa alasan rasional ataupun empiris, mempercayai bahwa tiada tuhan selain allah dan Muhammad adalah utusan allah lalu mencoba dan terus mencoba membuktikan pada dunia bahwa kepercayaan kita itu adalah kepercayaan yang benar.

Mungkin akan timbul pertanyaan di kepala kita. Bagaimanakah mengukur kebenaran dari kepercayaan itu?

Maka jawabnya adalah dengan membuktikan bahwa ajaran-ajaran agama kita dapat mewujudkan kehidupan dunia yang seimbang. Membuktikan bahwa ajaran agama kita dapat mewujudkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam sekitarnya, manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan tuhan.

Agama yang benar adalah agama yang mengajarkan prinsip keseimbangan universal, agama yang memanusiakan manusia.

Akan ada lagi pertanyaan, “apakah islam adalah agama yang demikian sifatnya?”

Maka jawabnya adalah, ya. Karena islam menawarkan ajaran yang bersifat universal, bukan kesukuan atau kebangsaan. Islam untuk dunia. Islam dengan lantang menyuarakan, ijinkan aku mengatur dunia manusia.

Akan ada lagi pertanyaan, “bukankah agama lain yang bukan agama folk (agama yang tidak ditawarkan secara universal) juga mengaku demikian?”

Maka jawabnya, benar. Mereka mengaku, namun, saya tidak melihat mereka memiliki konsep ekonomi, social, politik, ilmu pengetahuan, atau ajaran kemanusiaan yang lebih jelas dari konsep-konsep yang demikian yang ada pada ajaran-ajaran agama islam. Hal ini dapat kita bahas secara rinci pada pembahasan yang akan datang.

Akan ada pertanyaan lagi, “mungkin anda saja yang belum menggali ajaran-ajaran mereka, yang sebenarnya juga memuat konsep-konsep ekonomi, social, dan politik serta bidang-bidang lainnya itu”.

Maka, jawabnya, benar. Tentu saja saya belum mempelajari semua ajaran agama-agama itu. Tapi, kita tahu, bahwa ajaran-ajaran itu bergantung pada sumber ajarannya. Dapatlah kita mengatakan bahwa suatu agama itu benar-benar mengajarkan ajaran-ajaran jika sumber agama itu benar-benar memuat ajaran-ajaran itu.

Namun, jika sumber ajaran agama itu berubah-ubah bersama waktu, baik dikarenakan tidak sengaja atau keisengan pembesar-pembesarnya, maka pastilah ajaran yang terkini dari agama itu akan kita ragukan, apakah benar-benar ajaran yang berasal dari agama itu atau bukan.

Kita tahu, bahwa kitab-kitab suci mereka, agama-agama besar selain islam itu, yang mana menjadi sumber ajaran yang demikian itu, tidak lebih konsisten dari keberadaan kitab agama islam, alqur’an. Alqur’an terbukti lebih otentik daripada kitab yang lainnya.

Kita ketahui, bahwa kitab agama hindu adalah kumpulan gubahan-gubahan sepanjang usianya. Begitu juga kitab agama budha. Kitab agama Kristen juga mengalami revisi terus menerus.

Kitab alquran, mungkin saja dapat dianggap telah berubah, namun, sejauhmanakah perubahan itu dibandingkan kitab agama besar lainnya?adakah anda melihat alquran edisi revisi?adakah anda melihat alquran ditambah dengan syair-syair filosofis seperti kitab pada agama hindu?apakah anda melihat surat-surat nabi kepada raja-raja dahulu menjadi bagian dari alquran sebagaimana surat-surat rahib masa awal menjadi bagian dari kitab perjanjian baru? Alquran hanya mengalami perubahan system kodifikasi, system penulisan, system pembacaan, yang sebelumnya masih bersifat informal menjadi lebih formal.

Oleh karena itu, kitab alquran lebih otentik, sehingga ajarannya juga tentunya lebih otentik daripada ajaran agama lainnya. Nah, buat apa saya menggali ajaran-ajaran agama lain jika sumber-sumber ajaran agama-agama itu saya ketahui tidak lebih otentik daripada kitab alquran?

Akan ada lagi pertanyaan, pertanyaan yang menggoda, “jika islam adalah agama yang benar ajarannya, maka Islam yang manakah itu? Mengingat islam itu juga terpecah belah menjadi berbagai macam bentuk aliran atau kelompok dengan ajaran khas masing-masing”

Maka jawabnya, benar. Islam telah terpecah-belah. Tapi, islam bukanlah agama yang terseret zaman sedangkan ajarannya tersingkirkan dari peradaban manusia. Islam bukanlah agama yang memusuhi dan dimusuhi ilmu pengetahuan. Islam bukanlah agama yang tidak jelas asal mulanya.

Sebaliknya, islam mengukir namanya di buku-buku, di gedung-gedung, dan di ingatan jutaan manusia. Islam bukanlah agama tanpa tulisan atau tanpa kesaksian, oleh karena itu islam adalah agama yang memiliki sejarah, sehingga sejarah perpecahan itu juga dapat kita teliti.

Kita dapat meneliti, mana ajaran yang sempalan dan mana ajaran yang sesungguhnya. Kita tahu bahwa Sejarah, bagaimanapun relatifnya, adalah senjata kita yang handal untuk menghakimi seorang pencuri, atau.. penyempal.

Akan ada pertanyaan lagi. “lalu, dapatkah anda menentukan islam yang manakah itu?”

Maka jawabnya, dapat. Pada tulisan yang berikutnya, saya akan mencoba untuk menjelaskan dengan segala kelemahan saya, manakah ajaran islam yang sesungguhnya dan di dalam aliran islam yang manakah ajaran itu bersemayam. Apakah di aliran syi’ah atau sunni. Apakah di kedua-duanya. Atau, di aliran yang lain?

Tapi, perkenalkan dahulu.. sekarang dan seterusnya di dalam blog ini, saya adalah seorang muslim deduktif….

Posted by joozu at 08:35:24 | Permalink | Comments (2)