Konsep Tuhan, di antara akal dan Agama
“Doktrin-doktrin Kristen yang pernah saya terima dengan tidak kritis ketika kecil ternyata memang buatan manusia, yang telah dikonstruksikan selama berabad-abad silam.” (Karen Armstrong, Sejarah Tuhan : Kisah pencarian tuhan yang dilakukan oleh orang-orang yahudi, Kristen, dan islam selama 4000 tahun, Mizan, Bandung, 2001, h. 19.)
“The denial of the intelligence is a denial of an infinitely perfect god, as a denial of an infinitely perfect God is a denial of the intelligence. The two problems are inseparable.” (Fulton J. sheen, God and Intelligence in modern Philosophy, Longman’s Green and Co, Newyork, Toronto, 1952.)
Oleh karena itu, dan memang, sumber dari pertentangan agama dan akal sehat yang kita contohkan di post sebelumnya, adalah, Konsep Tuhan yang diemban oleh agama tersebut.
Tuhan yang salah tidak mungkin dapat merumuskan dan mengajarkan kepada seluruh manusia pandangan hidup yang benar. Pandangan hidup yang salah akan melahirkan pola berpikir yang tidak benar, lalu mengasuh sikap hidup yang membenarkan kesalahan, dan akhirnya perlahan-lahan ancaman atau kerusakan akan terjadi di mana-mana, di setiap waktu, hingga ada yang meluruskan pokok permasalahannya itu.
Ada baiknya jika Anda merenungkan sebentar, seperti apakah Konsep Tuhan yang Anda pahami?
Kemudian, kisah yang “Penting dan Genting” ini dapat kita lanjutkan…