Thursday, November 2, 2006

Akal pikiran dan Kebenaran Agama

Science without religion is lame

Religion without science is blind

(A.Einstein)

Maka tidak heran, A.N. Ehitehead dalam bukunya Science and the Modern World menulis :

When we consider what religion is for mankind, and what science is, it is not exaggeration to say, that the future course of history depends upon the decision this generation as to the relations between them.2 Memang benar, di dalam diri kita terdapat dua kekuatan, kekuatan intuisi agama dan kekuatan untuk meneliti dan menarik kesimpulan yang sesuai dengan akal.

Jadi secara intuisi, kita sebagai manusia, sama-sama membutuhkan “Tempat Bergantung”, sesuatu yang dapat menenangkan pikiran kita dan memberikan stimulan-stimulan yang menyenangkan secara psikologis, dan masih sebagai manusia, kita merasa perlu memberikan argumen-argumen logis mengenai benar atau tidaknya intuisi tersebut, sehingga dapat bermanfaat bagi semua orang. Mungkin Anda akan bertanya, mengapa kita perlu argumen logis dalam “rasa keagamaan”, bukankah tanpa dibuktikanpun kita bisa merasakan manfaatnya?

Sayangnya, sejarah berkata lain. Pertentangan ilmu pengetahuan dan akal di satu pihak dan agama di lain pihak, terjadi sejak zaman purba sampai sekarang. Bukankah perilaku manusia kuno yang menyembah pepohonan hanya dengan alasan bahwa mana bersembunyi di pohon itu, adalah tidak logis?Bukankah pembantaian bayi israel oleh fir’aun mesir tidak masuk akal? Bukankah Bukankah tulisan cosmas, berdasarkan bible, bahwa dunia ini merupakan jajaran genjang yang panjangnya dua kali lebar, bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan? Bukankah pendapat Galileo bahwa dunia ini bergerak mengelilingi matahari, dan bukan sebaliknya, telah ditentang oleh paus karena bertentangan dengan Bibel? Masih banyak lagi. Silahkan Anda mencari sendiri.

Sekarang, kita punya empat pilihan:

pertama, melakukan kesalahan intelektual dengan menelan agama bulat-bulat dan meninggalkan ilmu pengetahuan;

kedua, sebaliknya;

ketiga, menjadi pengecut dengan menerima kedua-duanya lalu menempatkannya pada tempat yang berlainan dalam otak kita;

Saya pilih yang ke-empat, yaitu, kita harus memikirkan benar atau tidaknya intuisi keagamaan kita berdasarkan pertimbangan akal sehat atau fakta ilmiah yang ada.

Prof. Herbert J. Muller berkata dalam The Uses of The Past :

Scientific standards of truth are not only possible standards of course, but they are the necessary standards for claims to literal, factual, historical truth.” (Herbert J. Muller,The Uses of The past, A Mentor Book, New york, 1957, h. 80)

Nah, sebelum kita lanjutkan, Anda pilih yang mana?…

Posted by joozu at 05:01:38
Comments

Leave a Reply